Menjadi Atheis, why not?

Written by Brillie on June 5, 2009 under Diary.

Selama satu bulan ini aku bergaul dengan pria atheis. Nama pria itu adalah Paul. Apa itu atheis? Maaf, cari sendiri yach definisi Atheis di Wikipedia, aku tidak akan menjelaskannya. Tetapi yang kutahu, Atheis itu tidak mempunyai agama, mereka cuma tahu dan menjalani apa yang dianggapnya baik dan buruk. Lho, lalu apa bedanya dengan komunis? Aduh.. jangan tanya lagi dong, cari sendiri ya definisinya supaya pintar. Males mikir nich.

Menjadi Atheis tidaklah seburuk yang aku kira. Mereka terbuka dengan semua ajaran agama. Setidaknya mereka tidak saling mengganggu dan meracuni umat beragama satu sama lain. Mereka belajar dari pengalaman, mereka belajar hal-hal yang benar dan salah di dunia ini. Cuma bedanya, mereka tidak percaya Tuhan dan segala hal-hal ghaib lainnya. Ya wajar saja, karena mereka belajar logika. Sedangkan Tuhan, hanya mungkin khayalan beberapa orang saja di masa lalu dan akhirnya ada hingga sekarang.

Om-om itu berkata (Paul maksudnya), bahwa dengan belajar dari pengalaman dia akhirnya tahu bahwa macan/singa tidak akan menyerangnya kalau kita tahu bagaimana cara mengendalikannya. Yah.. bagiku juga macan tidak berbeda dengan kucing, hanya saja macan itu bertubuh lebih besar. Selebihnya, dia suka kalau dielus dan dimanja. Kucing juga kalau diganggu akan menyerang, hanya saja cakaran dan gigitannya tidak sebuas macan.

Yap, dengan menjadi Atheis mungkin Paul tidak menjadi pengikut Tuhan yang setia. Tetapi menjadi atheis tidak perlu saling curiga, anarkis, unjuk rasa, dsb dengan sesama pemeluk agama lain. Hey hello.. coba lihat pemeluk agama di Indonesia. Katanya beragama, tapi mana buktinya? Unjuk rasa atas nama agama di mana-mana, parahnya disertai tindakan anarkis. Seperti masyarakat yang tidak beradap saja. Tuhan tidak mengajarkan untuk itu. Alasannya jihad? Ataukah hanya sebuah pelampiasan belaka? Aku tidak tahu.

Lebih baik menjadi Atheis. Tidak perlu menjadi munafik kepada Tuhan, karena memang tidak punya Tuhan. Ada seseorang yang pernah kucintai yang berbicara atas nama Tuhan hanya untuk mengingkari janjinya sendiri. Oh.. persetan dengan omongannya. Sudah kuduga itu bohong! Ngapain sih dia harus bawa-bawa nama Tuhan hanya demi melancarkan tujuannya, katakan saja yang sebenarnya, toh aku sudah tau. Aku mungkin akan dua kali lebih sakit daripada sekarang, tapi setidaknya dia tidak perlu menjadi orang yang munafik dan menjadi sok suci dihadapan agama serta membuatku berharap seakan-akan omongannya memang benar karena berdasarkan atas ketentuan Tuhan.

Kalau ditanya, bagaimana denganku? Well, aku bukan Atheis. Aku cuma menghargai dan menghormati prinsip mereka. Tetapi aku juga bukan makhluk Tuhan yang sangat religius. Aku percaya Tuhan ketika anugrah datang padaku dan aku sangat bersyukur padaNya. Tetapi aku juga mengikuti perkembangan jaman sekarang. Sayangnya di Indonesia tidak boleh menjadi Atheis, harus memilih dari 6 agama yang telah ditunjuk oleh negara. Aku pikir seharusnya adakan saja Atheis, daripada punya agama cuma untuk status di KTP saja. Beberapa anggota keluargaku juga kalau dipikir-pikir sebenarnya mereka bisa dikatakan Atheis. So what? Apakah ada bedanya? Toh mereka tidak mempengaruhi orang lain untuk berbuat jahat. Lihat Indonesia, walaupun katanya umatnya bergama tetapi negaranya masih tetap kacau.

Yah.. yah.. yah.. anggap saja aku berbicara ngawur, ngaco. Anggap saja aku sedang mabuk sehingga menulis artikel ini seenak udelku sendiri. Jangan dibaca dan jangan protes kalau pemikiranku salah. Jangan juga membenarkan apa yang menurutmu ini salah. Kalau mau membantan artikelku ini, silahkan tulis artikel sendiri di blogmu sendiri. Aku tidak perlu orang lain untuk mengomentari pemkirianku. Kalau suka ya terima kasih berarti pemikiran kita sama, tetapi kalau enggak ya sudah. Toh aku tidak akan mengganggumu. Sudah cukup aku hidup dalam aturan-aturan yang kupikir akan memudahkan hidupku ternyata tidak. Aku seharusnya sadar dengan membuat aturan-aturan sendiri untuk memudahkan hidupku sendiri, bukan mengikuti aturan yang telah dibuat orang lain, oleh negara, oleh agama misalnya. Tetapi tentunya aturan-aturanku tidak lepas dari aturan-aturan yang dibuat oleh negara maupun agama, hanya bedanya aku hanya memilih aturan yang menurutku cocok dan pantas aku terapkan dalam hidupku. Selanjutanya? It’s bullshit! Nggak ada satupun manusia biasa yang 1000% menerapkan aturan secara menyeluruh dalam hidupnya. Aku berani bertaruh itu.

July 17, 2008
Re-Post dari Blogku di Friendster: Simple Life Blog

Comments

  • Edi Psw

    June 5, 2009 at 9:59 am


    Saya sepertinya sudah pernah memberi komentar pada tulisan seperti ini ya?

  • diorockout

    June 5, 2009 at 10:12 am


    opo rek

  • geRrilyawan

    June 5, 2009 at 10:43 am


    saling menghormati pilihan orang aja….

  • ierone

    June 5, 2009 at 11:02 am


    Seberapa pun besarnya kau membuat dia beragama. kau tak akan bisa, jika pintu hatinya telah tertutup

  • Fenty

    June 5, 2009 at 11:30 am


    eh tumben bisa komentar :p kemaren2 harus log in dulu :p

    yang penting mengikuti jalur yang sudah ada deh

  • AzizHadi

    June 5, 2009 at 12:40 pm


    Beragama itu belum tentu bisa menjalani peraturan Agama yg dipeluknya, yg bagus adalah orang yang beriman kepada Agamanya, yg bisa menjaga Agamanya, dan yg terpenting adalah mematuhi segala perintah Agama dan tidak melanggarnya, jika melanggar itu sama saja beragama namun tak punya aturan, seperti kita, kita hidup di Indonesia, namun kalo tidak mau mencintai Indonesia, kita masih bisa dikatakan sebagai warga negara Indonesia, namun warga negara yg bagaimana dulu…

    Dukung Orang yg Mau Berusaha

  • Anthony Harman

    June 5, 2009 at 3:25 pm


    Daripada berjihad dengan mainan bom, memang sebaiknya jadi atheis saja

  • achoey

    June 5, 2009 at 7:53 pm


    Dan tugas kita hanya berusaha

    Salam kenal

  • Blog Dokter

    June 5, 2009 at 8:50 pm


    Agama adalah pilihan dan tidak beragama pun adalah pilihan.

  • Danta

    June 6, 2009 at 12:46 am


    Setuju.. mau beragama kek.. mau ga kek.. yang penting harus saling menghormati. Tapi kalo saya yang jelas beragama

  • deteksi

    June 6, 2009 at 7:02 am


    postingan putus asa

  • ibu rumpi

    June 6, 2009 at 10:49 am


    tiap orang punya pilihan sendiri, mbak… apapun pilihan yang kita jalani asalkan kita tanggung jawab, why not gitu looohhh…. btw, Paul yang mana? yang ganteng apa yang loreng? hahaha

  • widi hermansyah

    June 6, 2009 at 1:13 pm


    kita harus hargai pilihan orang apapun itu.. yg jelas setiap diri harus bertanggung jawab dengan pilihannya.

Add a Comment

* means field is required.

Name *

Mail *

Website