Pagi-pagi buta aku sudah di depan rumah, bukan karena terkunci dari dalam sehingga tidak bisa masuk ke dalam rumah atau karena lagi bantuin bapak-bapak RT 20 yang lagi ronda, melainkan karena menunggu abang penjual koran. Tumben-tumbennya aku bangun pagi, biasanya jam segini aku masih meringkuk dibalik selimut.
“Bang, koran!”, teriakku pada saat aku melihat laki-laki belasan tahun mengayuh sepeda sambil berteriak melintas di depan rumah. Setelah 2 jam menunggu akhirnya abang penjual koran lewat juga.
Abang koran tersebut kemudian berhenti dan turun dari sepedanya. Sepantasnya dia dipanggil adek karena kelihatan masih muda, tetapi aku lebih nyaman untuk memanggilnya abang.
“Cari koran ya, neng?”, tanya si abang.
“Iya, kok tau?”, tanyaku balik.
“Ya tau neng, mau cari iklan lowongan kerja kan?”, tebaknya.
Aku mengacungkan jempolku. Seratus buat abang penjual koran! Kalau ada piring cantik, sudah aku kasih daaaaah… ke abang itu sebagai hadiah.
Aku memilih-milih beberapa koran yang ditawarkan olehnya, banyak sekali koran yang dibawa si abang. Mulai koran yang isinya berbobot penuh dengan informasi bisnis, sampai koran yang hanya memuat berita kriminal dan banyak iklan mesumnya. Aku sampai bingung memilihnya.
“Kenapa neng, bingung ya mau pilih yang mana?”, tanya penjual koran itu sambil memperhatikan aku yang sedari tadi cuma berdecak dan geleng-geleng kepala sendiri.
“Iya nih bang”, jawabku singkat.
“Bang, ada nggak koran yang isinya bisa buat gue langsung keterima kerja?”, tanyaku.
Nah loh, sekarang giliran si abang yang geleng-geleng kepala. Mene eke tehe… begitu kali ya pikir si abang dalam hati.
“Yah, neng. Kalau ada korang begitu, abang nggak perlu jadi tukang koran kayak sekarang ini”, jawabnya polos.
“Oh iya ya…”
Duengg.. nah loh, sekarang gantian siapa yang o’on. Hehehe…
Akhirnya aku memutuskan untuk memilih salah satu koran populer. Si abang sih menyarankan untuk membeli semua judul koran yang dibawanya. Gile bener, enak di dia nggak enak di gue, tekor nih akhir bulan. Hehehe… Setelah memberikan uang kepada penjual koran itu aku langsung menuju teras rumah.
Satu persatu kubaca iklan lowongan pekerjaan yang ada di dalamnya. Huff.. membosankan, kebanyakan yang diminta adalah orang yang sudah berpengalaman. Ujung-ujungnya jadi sales, beuh… males!
Aku lelah menjadi Web Master yang cuma mengurusi blog atau menjadi mahasiswi putus asa. Aku ingin mendapatkan pekerjaan baru yang asyik, nggak berat, tapi gajinya oke. Hehehe.. maunya!
Jadi hari itu sia-sia saja aku membeli koran. Tidak ada satupun iklan lowongan kerja yang berhasil menggugahku. Ceile…
Akhirnya kulempar koran itu ke meja di teras rumah. Tergeletaklah dia di sana. Terkena debu, basah oleh hujan, kering akibat panas, dan sekarang jadi tempat pup nya kucingku. Kasihan kamu koran…
| 2.1 |



