Malam itu, Senin 13 Mei 2008, kami memutuskan untuk pergi menghabiskan waktu. Setelah keluar dari hotel di daerah Tugu Yogyakarta dan tepatnya di Jl. Jend. Sudirman no 9, aku dan sepupuku Mia memutuskan untuk berjalan kaki ke Malioboro, sedangkan Jannu pergi sendiri dan menunggu kami di sana. Karena lumayan jauh, akhirnya aku memutuskan untuk naik becak saja dan sepakat janjian dengan Jannu untuk menunggu di depan Plaza Malioboro. Dari depan Plaza kami menyebrang jalan dan memilih untuk berjalan kaki menuju Mirota Batik.
Disepanjang perjalanan, aku berbincang-bincang dengan Jannu. Sedangkan sepupuku, Mia berjalan sendiri di depan kami sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dan penjual yang banyak berjualan di kiri dan kanan jalan. Aku dan Jannu membicarakan banyak hal, salah satunya tentang masa kecil kami. Maklum saja, aku dan Jannu sudah sebelas tahun (11 tahun) tidak bertemu, tepatnya sejak aku memutuskan untuk ikut hijrah ortu dari Balikpapan ke Surabaya. Jannu sudah banyak berubah, dia berbeda dengan Jannu kecil yang dulu kukenal. Jannu yang nakal, Jannu yang suka mengintip isi rok anak perempuan waktu SD, Jannu yang suka banget menggoda dan menjahiliku terlebih lagi dia pernah membuatku terluka. Ya, peristiwa berdarah itu bermula ketika seperti biasa dia menggoda dan mengolok-olokku di sekolah beberapa hari sebelum kepergianku meninggalkan Balikpapan. Aku berlari mengejarnya, bukannya dapet eh aku malah jatuh hingga lututku terluka dan berdarah. Sejak saat itu peristiwa itu selalu ku kenang. Jannu tidak pernah tahu bahwa dia pernah menyakitiku, meninggalkan luka yang mendalam selama 11 tahun. Tapi sudahlah, itu hanya sebuah kenangan masa lalu.
Perjalanan pun kami lanjutkan, sesekali kami bercanda dan sesekali kami melihat-lihat barang unik dan antik yang dijual di sepanjang jalan Malioboro. Aku tertarik pada sebuah syal berwarna merah-putih, Jannu pun membantuku menawarkan barang itu hingga aku pun membelinya. That’s preety nice, I love it. Wah, aku takjub ada cowok yang mau diajak berbelanja oleh cewek. Selain itu dia pun sudah sangat menjawi, padahal dia baru beberapa tahun tinggal di Jogja. Berbeda denganku, yang sudah tinggal selama 11 tahun di Jawa tetapi bahasa jawa masih belum bisa dan belum lancar. Bukan hanya itu yang membuatku kaget dan kagum atas perubahan Jannu kecil. Jannu yang sekarang jauh lebih dewasa dalam berfikir, bertindak, padahal dia lebih muda daripada aku. Terlebih lagi cintanya yang mendalam kepada Febri, wah wah wah.. Aku banyak melewatkan banyak hal dalam 11 tahun ini.
Jannu menghentikan langkahnya, dia menyuruhku mencium aroma wangi yang berada disekelilingku. Hmm.. seperti aromaterapi dari dupa yang wangi. Kemudian Jannu pun menjelaskan penyebab mengapa dia menyuruhku untuk menikmati setiap langkahku dan tidak boleh berjalan cepat-cepat. Kalau aku berjalan cepat, aku akan pusing. Tetapi jika aku berjalan perlahan dan ikut menikmati wangi sekitar, maka aku akan menjadi lebih rileks. Ya, Jannu menjelaskan sedikit tentang filosofi jawa yang mengatakan bahwa orang jawa kalau berjalan pelan, lemah lembut dan penuh kharisma. Well, that’s surprise me! Aku menganggukan kepala dan berniat melanjutkan langkahku ketika Jannu berkata, “Mau ke mana, Ki? kita sudah sampai”. Hah?!!? Baru kusadari itu ketika aku melihat ke atas ada papan yang bertuliskan “MIROTA BATIK” dengan huruf yang sangat besar.
Catatan kecil:
Menyenangkan bisa berjalan bersamanya, itu hal terindah yang pernah aku lakukan di malam hari di Yogyakarta. Ya, aku memang dari dulu berharap bisa berjalan di trotoar menyusuri kerumunan orang yang berjualan di sisi kiri dan kanan jalan. Bukan seperti di pasar, atau saat berbelanjanya tetapi lebih menikmati saat-saat perjalanannya itu. Bisa berbagi cerita dengan orang yang menemani kita di perjalanan, sehat dan tentunya menyenangkan. Hingga tidak sadar bahwa kami sudah sampai di tujuan mengingat jarak yang ditempuh dari Plaza Malioboro ke Mirota Batik dengan berjalan kaki lumayan jauh.
| 2.1 |


